Asia Education Foundation (AEF) 2019 Australia-Asia BRIDGE School Partnerships Program

Rabu, 06-02-2019 12:51 WIB

Asia Education Foundation (AEF) 2019 Australia-Asia BRIDGE School Partnerships ProgramBRIDGE (Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement)

Projek BRIDGE (Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) itu sendiri merupakan inisiatif di bidang pendidikan yang mengundang guru-guru di Indonesia untuk mengunjungi beberapa sekolah di Australia guna menjalin hubungan serta mengusung kolaborasi kurikulum sekolah di kedua negara. Projek ini telah sukses dijalankan sejak 2008.

Singkatnya, tahun ini BRIDGE mengundang kembali tenaga pengajar dari sekolah tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) di Indonesia untuk mengunjungi sekolahsecondary yeardi Australia dan berbagi kurikulum serta metodologi pengajaran. Para guru ini pun tinggal selama seminggu di rumah guru-guru dari sekolah yang mereka kunjungi.

"BRIDGE pada dasarnya adalah hubungan yang wujud nyatanya berupaschool partnership. Tujuannya yang pertama yaituintercultural, saling memahami budaya yang berbeda antara Australia dan Indonesia. Yang kedua, meningkatkan kemampuan berbahasa asing, baik di Indonesia maupun di Australia. Yang ketiga, guru-guru di Australia itu sangat berminat, terutama karena sekarang ada permintaan atau keharusan dari pemerintah, bahwa sekolah-sekolah itu wajib "melirik" ke Asia, jadi sekarang mereka sudah mulai melihat kepada negara-negara Asia, salah satunya adalah melalui program BRIDGE ini," ujar Donny Jatisambogo, selaku penghubung BRIDGE di Kedutaan Besar Australia, Jakarta.

Donny kembali menjelaskan, bagi guru-guru asal Indonesia, mereka akan memahami lebih banyak Bahasa Inggris, sekaligus belajar mengenai sistem pengajaran di Negeri Kangguru. "Pada akhirnya, BRIDGE ini akan menguntungkan kedua belah pihak, bukan hanya satu arah."

Demi memastikan agar kurikulum dan metodologi pengajaran dapat diimplementasikan di Indonesia sekembalinya ke Tanah Air, sebelum mengikuti program BRIDGE, para guru telah membuat perencanaan hingga satu tahun kedepan. "Tidak semua lancar, tetapi rata-rata mereka cukup disiplin, begitu mereka kembali ke Indonesia mereka mulai berjalan sendiri. Setiap tahun kita memang memberikansupportberupateacher's workshop," papar Donny.

Dalam perkembangannya, BRIDGE tidak hanya menyediakan kesempatan bagi guru-guru dari Indonesia untuk datang danmengecap pengalaman di Australia melalui programhomestay, tetapi sekarang ini ada juga kebalikannya, hanya saja bentuknya sedikit berbeda. "Jadipartnersmereka yang di Australia itu punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa untukstudy tourke Indonesia. Bagian daristudy tourtersebut adalah berkunjung ke sekolah mitranya," kata Donny.

Pada malam perkenalan,BUSETsempat berbincang dengan Lidya Arlini Tarigan dan Herlina Sitepu dari SMPN (Sekolah Menengah Pertama Negeri) 4 Pancur Batu, Medan. Mereka dipasangkan dengan Megan Cross dan Emma Madigan dari Burnside State High School di daerah Sunshine Coast, Queensland. Keduanya mengaku sempat berhubungan dengan rekan masing-masing lewate-mailsebelum keberangkatan, maka walau baru pertama kali bertatap muka sudah merasa akrab.

Lidya dan Herlina sempat menjelaskan proses mengikuti BRIDGE, "sekolahnya dipilih dulu, jadi diambil empat guru, lalu diuji, setelah itu dua diluluskan untuk berangkat kemari. Diuji ada 2 tes, wawancara dan tes tulis. Tes yang pertama di sekolah, dan setelah lulus ada tes kedua di dinas propinsi Sumatera Utara, dan itu yang menguji adalah Pak Donny," ujar Lidya yang di sekolah asalnya mengajar Bahasa Inggris.

Sedangkan Herlina Sitepu adalah guru Seni dan Budaya yang belajar Bahasa Inggris dari lagu. "Saya menyanyi, lalu sayatranslate, dan saya mengerti, misalnya;when I need you, ketika saya membutuhkanmu," candanya.

Sekolah yang akan mereka kunjungi pun memiliki ketertarikan pada budaya Asia. Ini terlihat dari salah seorang gurunya, Emma yang cukup fasih berbahasa Indonesia dan Jepang.

Meski baru pertama kali menginjakkan kaki di Australia, Lidya dan Herlina mengatakan mereka sedikit banyak sudah mengetahui perbedaan budaya di dalam mengajar, sekaligus kurikulum di Australia. Sehari sebelum acara makan malam, Lidya dan Herlina telah mendapatkan kesempatan mengunjungi sebuah sekolah dasar di daerah Ringwood, Victoria. "Kita berdua pasti berusaha, bagaimana itu bisa diimplementasikan di sekolah kita, kalau kita rasa memungkinkan, kenapanggak? Begitu sampai, kita akan sampaikan pengalaman yang kita dapat kepada teman-teman di sekolah," tutur Lidya.

Di lain pihak, menurut Herlina, ada pula yang sulit untuk diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah kendala ruangan.Primary schoolyang mereka kunjungi hanya menerima antara 20 hingga 25 anak dalam satu kelas, dan ini merupakan standar nasional Australia. Sedangkan di tempatnya mengajar, jumlah murid per kelas dapat mencapai 44 siswa/i. "Di sana (Medan) saya mengajar juganggakada itu anak-anak duduk di lantai. Kalau di sana, anak-anak disuruh duduk di lantai itu sebagai hukuman, tetapi diprimary schoolkemarin, saya lihat ada di saat belajar, anak-anak di lantai semua dan ada saat anak-anak menggunakan meja. Itu saya sangat antusias melihatnya. Tapi untuk melakukannya di Indonesia itu sangat susah, karena ruangan kita sangat tidak memadai untuk itu."

Kendati demikian, ada beberapa ide baru yang didapat dan tetap akan diusahakan agar kesempatan yang sudah mereka dapatkan tidak terbuang percuma. "Kalau kurikulum dan teknik mengajar sih bisa. Seperti meja-meja di Indonesia kan dibuatrow, sedangkan di Australia, meja-meja dibuat per grup, nah itu bisa diterapkan. Supaya murid bisa aktif dan tidak takut mengungkapkan pendapat mereka," papar Lidya.

Grace Yehshiang, guru SMAN 5 Semarang, juga mengaku sangat tertarik mengikuti program BRIDGE. Sama seperti yang lainnya, Grace akan menjalanihomestaybersama Jacinta Hohnke dari Manilla Central School di New South Wales.

"Saya mendengar program ini sudah lama sekali dari acaraKick Andy!Kemudian kepala sekolah kami memberi tahu bahwa SMAN 5 dipilih untuk ikut dalam BRIDGE. Sekolah kami diobservasi, lalu kemudian dites," paparnya. Menurut Grace, ia sejauh ini sudah mendapatkan banyak masukan mengenai kurikulum, ada beberapa persamaan dan ada beberapa perbedaan juga.

"Kemarin ketika saya observasi ke sekolah, saya lihat di sini anak itu sudah diperkenalkan sejak kecil mengenai I.T. (Teknologi Informasi) di Ringwood." Walaupun dalam beberapa hal masih dibutuhkan persiapan secara matang, Grace yakin jika dirinya dapat menggunakan pengalamannya dan mengambil sisi positif dari kurikulum dan metode pengajaran di Australia untuk kemajuan anak didik di sekolahnya.

sasha-sumber

video dukungan SMA Negeri 11 untuk ikut dalam programAsia Education Foundation (AEF) 2019 Australia-Asia BRIDGE School Partnerships Program

video 1 - Drs. Burhasman, MM - Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat

video 2 - Nuragusman Eka Putra, MPd- Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Padang

video 3 - Suardi, S.Sos - Ketua komite SMA Negeri 11 Padang

Berita lainnya

Komentar Berita

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *